PIJAR MEDIA, SURABAYA — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyerukan agar tidak ada aksi demonstrasi besar sepanjang Agustus 2026. Dia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kesakralan bulan kemerdekaan dengan mengisinya melalui kegiatan positif.
Hal itu disampaikan Hasto saat berada di Museum HOS Tjokroaminoto, Surabaya, Senin (10/08/2026). Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kabar mengenai rencana aksi demonstrasi besar-besaran pada Agustus.
“Kami mengajak seluruh komponen bangsa agar mari kita jaga kesakralan pada bulan Agustus. Maka bulan Agustus kalau kemarin ada isu-isu demo ya sebaiknya janganlah di situ,” kata Hasto, dikutip dari JPNN.com.
Hasto menegaskan ajakan tersebut bukan berarti PDIP menolak hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Menurutnya, kebebasan berserikat dan menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi merupakan hak konstitusional warga negara.
“Memang demonstrasi itu kebebasan berserikat, kebebasan menyampaikan pendapat itu kan dijamin dalam konstitusi. Nah, PDI Perjuangan respect dan kami berjuang bagi amanat konstitusi itu,” ujarnya.
Dia mengatakan pemerintah maupun partai politik tidak dapat melarang masyarakat menyampaikan kritik. Namun, Hasto berharap momentum Agustus dimanfaatkan untuk kegiatan yang membangun di tengah berbagai persoalan bangsa.
“Mari pada bulan Agustus ini dengan melihat berbagai problematika bangsa yang tidak mudah itu baiknya kita isi dengan hal-hal yang positif,” katanya.
Hasto menilai Agustus merupakan momentum penting untuk kembali menggali nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa. Nilai tersebut, kata dia, perlu dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini untuk merumuskan agenda ke depan.
“Skala prioritas kita saat ini pada bulan Agustus ini lebih baik kita menggali dan kemudian melihat relevansi dan kemudian merumuskan agenda apa yang harus kita lakukan. Tanpa menghilangkan berbagai suara-suara kritis untuk terus dapat disuarakan,” ucapnya.
Dia juga menyinggung sejumlah peristiwa bersejarah pada Agustus, termasuk wafatnya pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman, serta penetapan 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia.
Hasto turut mengangkat kembali semangat pembebasan Bung Karno terhadap rakyat Marhaen. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus digelorakan, salah satunya melalui peluncuran buku Marhaenisme untuk Generasi Z.
Selain itu, Hasto mengutip pandangan pemikir kebinekaan lulusan Harvard, Sukidi, mengenai potensi bahaya otoritarianisme yang dapat muncul di balik watak populis.
Meski mengajak masyarakat menahan diri dari demonstrasi besar selama Agustus, Hasto menegaskan suara kritis tetap harus dihormati sebagai bagian dari kebebasan warga negara yang dijamin konstitusi.
(Rian)













