PIJAR MEDIA, TUBABA— Pelaksanaan ibadah kurban di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, pada Tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tubaba mencatat jumlah total pemotongan hewan kurban mencapai 5.327 ekor atau meningkat sekitar 13 persen dibandingkan Tahun 2025 yang hanya sebanyak 4.714 ekor.
Peningkatan tersebut sekaligus mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan ibadah kurban serta menggambarkan geliat sektor peternakan di daerah setempat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakeswan Tubaba, drh. Irwan Sutrisno, mengatakan kambing masih menjadi hewan kurban yang paling dominan dipilih masyarakat.
“Jumlah pemotongan hewan kurban Tahun 2026 mencapai 5.327 ekor. Kambing masih mendominasi dengan 4.549 ekor atau sekitar 85 persen dari total keseluruhan,” kata Irwan, mewakili Plt.Kepala Disnakeswan Tubaba, Eri Budi Santoso, saat dikonfirmasi media, Sabtu (30/05/2026).
Selain kambing, Disnakeswan juga mencatat pemotongan sapi sebanyak 764 ekor, kerbau 13 ekor, dan domba 1 ekor.
Dari sembilan kecamatan di Tubaba, Kecamatan Tulang Bawang Tengah menjadi wilayah dengan jumlah pemotongan tertinggi. Total hewan kurban yang dipotong di wilayah tersebut mencapai 1.383 ekor, terdiri dari 4 kerbau, 242 sapi, dan 1.137 kambing.
Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Tumijajar dengan 841 ekor dan Kecamatan Tulang Bawang Udik sebanyak 718 ekor.
Secara umum, hampir seluruh kecamatan mengalami kenaikan jumlah pemotongan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan paling mencolok secara persentase terjadi di Kecamatan Pagar Dewa yang naik sekitar 37 persen, sedangkan Tulang Bawang Udik dan Batu Putih masing-masing meningkat sekitar 31 persen.
Menurut Irwan, peningkatan jumlah kurban terbesar berasal dari jenis kambing. Pada Tahun 2025, pemotongan kambing tercatat sebanyak 3.972 ekor dan naik menjadi 4.549 ekor pada Tahun 2026 atau meningkat sekitar 15 persen.
Sementara itu, pemotongan sapi juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu besar, yakni dari 737 ekor menjadi 764 ekor atau sekitar 4 persen. Adapun kerbau mengalami lonjakan paling tinggi secara persentase, dari 5 ekor menjadi 13 ekor atau meningkat sekitar 160 persen.
Di sisi lain, Disnakeswan Tubaba juga melakukan pengawasan ketat melalui pemeriksaan ante mortem dan post mortem guna memastikan hewan kurban memenuhi syarat kesehatan dan keamanan pangan.
“Pada pemeriksaan ante mortem atau sebelum pemotongan, petugas menemukan sejumlah hewan yang tidak layak dijadikan kurban karena kondisi kesehatan maupun belum memenuhi syarat umur,” ungkap Irwan.
Temuan kambing yang belum cukup umur tercatat di beberapa kecamatan, yakni tiga ekor di Tumijajar, satu ekor di Tulang Bawang Udik, dan lima ekor di Tulang Bawang Tengah.
“Petugas memberikan rekomendasi agar hewan yang belum memenuhi syarat umur maupun memiliki kondisi kesehatan yang tidak layak tidak digunakan sebagai hewan kurban,” ujar Irwan.
Sementara pada pemeriksaan post mortem atau setelah pemotongan, petugas menemukan infestasi cacing hati pada sejumlah hewan kurban.
Temuan tersebut terdapat di Kecamatan Batu Putih sebanyak dua ekor dan Way Kenanga empat ekor. Organ yang terinfestasi, terutama hati, disarankan untuk dibuang dan tidak dikonsumsi.
Meski terdapat sejumlah temuan, Irwan memastikan secara umum daging hewan kurban di Tubaba aman dikonsumsi masyarakat setelah melalui pemeriksaan kesehatan veteriner.
“Secara umum kondisi daging hewan kurban aman untuk dikonsumsi setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas,” tuturnya.
Selain memantau kesehatan hewan, Disnakeswan juga mencatat perkembangan harga ternak kurban pada Tahun 2026.
Harga sapi dan kerbau berada pada kisaran Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram bobot hidup, sedangkan kambing dan domba berkisar Rp75.000 sampai Rp85.000 per kilogram.
Irwan menjelaskan, harga sapi mengalami kenaikan sekitar Rp5.000 per kilogram dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan dipengaruhi tingginya penjualan sapi ke luar daerah untuk kebutuhan penggemukan.
Dari sisi ketersediaan, stok ternak di Tubaba dinilai masih mencukupi, terutama untuk ternak spesifikasi aqiqah dan hewan yang belum memenuhi syarat umur kurban.
Pemerintah daerah berharap kondisi tersebut menjadi dorongan bagi peternak untuk terus mengembangkan usaha peternakan. Dengan peningkatan jumlah kurban, pengawasan kesehatan yang ketat, serta stok ternak yang masih tersedia, Pemerintah Kabupaten Tubaba optimistis sektor peternakan daerah dapat terus berkembang dan memenuhi kebutuhan masyarakat pada tahun-tahun mendatang
“Peternak diharapkan tetap semangat mengembangkan usaha ternak dan berkoordinasi dengan dinas apabila menghadapi kendala budidaya maupun pengelolaan,” pungkasnya. (Rian)













