PIJAR MEDIA, TUBABA — Harga Gabah Kering Panen (GKP) di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mencapai Rp8.000 per kilogram.
Di tengah tingginya harga gabah dan keterbatasan pasokan dari produksi lokal, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Tubaba memastikan belum ditemukan gabah dari Tubaba yang dijual ke luar Provinsi Lampung.
Hasil pemantauan hingga Rabu (30/09/2026), juga menunjukkan kondisi ketersediaan pangan daerah masih aman. Pemerintah daerah terus memantau distribusi gabah, stok beras hingga harga di tingkat penggilingan dan masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Tubaba, melalui Kepala Bidang Distribusi Pangan, Yanti, mengatakan pemantauan dilakukan untuk memastikan aktivitas perdagangan gabah tidak mengganggu ketersediaan pangan masyarakat.
“Sejauh ini berdasarkan pemantauan di lapangan maupun laporan yang kami terima, belum ditemukan penjualan gabah dari Tubaba ke luar Provinsi Lampung,” kata Yanti.
Menurutnya, pengawasan distribusi gabah mengacu pada Peraturan Gubernur Lampung Nomor 7 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Nomor 71 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Gabah.
Dalam ketentuan tersebut, distribusi gabah ke luar Provinsi Lampung tidak diperbolehkan apabila kebutuhan gabah di dalam Provinsi Lampung belum terpenuhi.
Untuk kepentingan tertentu, seperti penelitian, pembibitan, pengendalian maupun penanggulangan penyakit dan hama tanaman padi, pengeluaran gabah dapat dilakukan melalui mekanisme perizinan sesuai ketentuan.
Yanti menegaskan pengawasan akan terus dilakukan untuk memastikan distribusi gabah berjalan sesuai aturan.
“Kalau ditemukan indikasi pelanggaran atau penyelewengan, akan dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan Satgas Pangan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Di sisi lain, DKP Tubaba mencatat adanya keterbatasan pasokan gabah yang berasal dari dalam daerah. Namun, kondisi tersebut tidak ditemukan berkaitan dengan adanya gabah Tubaba yang dikirim ke luar Provinsi Lampung.
Keterbatasan pasokan lebih dipengaruhi kondisi produksi pertanian Tubaba sepanjang 2026 yang menghadapi kendala cuaca dan ketersediaan air irigasi.
“Tubaba tahun ini baru melaksanakan satu kali musim tanam padi. Kondisi tersebut turut dipengaruhi mengeringnya jaringan irigasi Way Rarem pada periode El Nino,” ungkapnya.
Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, sejumlah penggilingan di Tubaba kemudian mengambil pasokan gabah dari wilayah kabupaten tetangga yang masih berada di Provinsi Lampung, antara lain Rawa Pitu dan Bratasena di Kabupaten Tulang Bawang.
Langkah tersebut dilakukan agar aktivitas penggilingan tetap berjalan sekaligus menjaga pasokan beras bagi masyarakat.
“Hasil pemantauan DKP menunjukkan harga GKP di tingkat penggilingan berada pada kisaran Rp7.900 hingga Rp8.000 per kilogram dengan jenis yang paling bagus. Harga tertinggi ditemukan pada sejumlah penggilingan seperti di PP Nyoman Raita di Tiyuh (Desa) Marga Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU), yakni Rp8.000 per kilogram. Sementara sejumlah penggilingan lainnya membeli GKP sekitar Rp7.900 per kilogram,” terangnya.
Yanti menjelaskan, tingginya harga gabah dipengaruhi persaingan penyerapan. Berdasarkan informasi yang diterima pihak penggilingan, pasar di Pulau Jawa juga masih menyerap gabah dengan harga relatif tinggi sehingga penggilingan harus menyesuaikan harga pembelian.
“Setidaknya ada enam penggilingan padi yang kita lakukan pemantauan bulan ini diantaranya, PP Suka Maju di Tiyuh Pulung Kencana, PP Komang Tiyuh Pulung Kencana, PP Laros Jaya di Tiyuh Pulung Kencana, PP Nyoman Raita di Tiyuh Marga Kencana, PP Mardis di Kelurahan Daya Murni, dan PP Dewi Sri Jaya di Tiyuh Margo Dadi,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan Pangan DKP Tubaba, Eva, memastikan ketersediaan pangan daerah dalam kondisi aman.
Berdasarkan data DKP, stok beras Bulog yang disalurkan melalui Kios Pangan mencapai 302,23 ton. Sementara stok beras di penggilingan dan distributor mencapai 26 ton. Dengan demikian, total stok beras yang tercatat mencapai 328,23 ton.
Selain stok beras, Tubaba juga memiliki stok gabah yang terdiri dari 20 ton GKP dan 124 ton Gabah Kering Giling (GKG), sehingga totalnya mencapai 144 ton.
“Kalau melihat neraca pangan dan perputaran stok harian, ketersediaan pangan masyarakat masih aman,” kata Eva.
Eva menerangkan, berdasarkan perhitungan kebutuhan konsumsi, setiap penduduk Tubaba membutuhkan sekitar 0,2588 kilogram beras per hari.
Dengan jumlah penduduk sekitar 304.760 jiwa, kebutuhan konsumsi beras masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 78,87 ton per hari.
DKP menilai kebutuhan tersebut masih dapat dipenuhi dengan dukungan stok yang tersedia serta perputaran pasokan dari penggilingan dan distributor.
Meski kondisi pangan dinyatakan aman, DKP Tubaba tetap memperketat pemantauan distribusi gabah dan perkembangan harga.
“Kita juga terus berkoordinasi dengan pemerintah Provinsi Lampung, Bulog, penggilingan, distributor serta Satgas Pangan untuk mengantisipasi apabila ditemukan indikasi distribusi yang tidak sesuai ketentuan. Oleh karenanya, pemantauan harga dan stok di tingkat penggilingan juga penting dilakukan secara berkala. Langkah ini diperlukan agar pasokan tetap tersedia dan kenaikan harga gabah tidak menimbulkan gejolak harga beras yang lebih besar di tingkat konsumen,” pungkasnya.
(Rian)













