PIJAR MEDIA, BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, terus mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.
Langkah ini dilakukan melalui Program Desaku Maju yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta memperluas pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas BUMDes dalam pelaksanaan Program Desaku Maju di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung, Senin (21/09/2026).
Gubernur mengatakan pembangunan Provinsi Lampung harus dimulai dari desa. Sebab, sebagian besar masyarakat Lampung bermukim di wilayah perdesaan sehingga penguatan ekonomi desa menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan daerah.
“Kami percaya pembangunan Provinsi Lampung harus dimulai dari desa. Apabila desa tumbuh, maka ekonominya akan tumbuh. Perekonomian harus inklusif, sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945,” ujar Gubernur.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi sumber daya alam dan komoditas unggulan yang besar, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan hingga perikanan.
Komoditas tersebut antara lain padi, jagung, ubi kayu, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, karet, kelapa, kakao, kelapa sawit, sapi potong, kambing, ayam pedaging dan petelur, hingga perikanan tangkap dan budi daya.
Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah masih terbatasnya hilirisasi komoditas di tingkat daerah, termasuk desa.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, nilai ekonomi sumber daya primer Lampung mencapai Rp165,31 triliun. Sementara tingkat hilirisasi baru berada di angka 45,6 persen.
Kondisi itu dinilai membuka peluang besar bagi desa untuk mengembangkan usaha pengolahan komoditas agar nilai ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.
Gubernur mencontohkan jagung yang tidak hanya dapat dijual sebagai hasil panen, tetapi juga dapat diolah menjadi pakan ternak sehingga menciptakan nilai tambah dan aktivitas ekonomi baru.
“Tantangannya adalah bagaimana nilai tambah itu tidak terus keluar dari desa. Kita berharap melalui BUMDes dapat tercipta arah baru, di mana komoditas desa diolah di desa, nilai tambahnya bertahan di desa, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat desa,” terangnya.
Karena itu, BUMDes diharapkan tidak sekadar menjadi lembaga usaha desa, tetapi berkembang sebagai penggerak ekonomi lokal. Perannya dapat diperkuat melalui pengembangan usaha produktif, pengelolaan potensi sumber daya desa, serta kerja sama dengan lembaga ekonomi dan pelaku usaha.
Program Desaku Maju sendiri memiliki sejumlah fokus, yakni peningkatan produksi dan produktivitas sumber daya manusia, hilirisasi serta peningkatan nilai tambah produksi, penguatan kemandirian desa, dan pengembangan kerja sama antarlembaga ekonomi di desa.
Gubernur berharap program tersebut mampu melahirkan model usaha BUMDes yang profesional, inovatif dan berkelanjutan.
“Bapak dan Ibu manajer BUMDes harus menjadi role model atau contoh bagi masyarakat. Saya berharap manajer BUMDes yang mengikuti bimtek ini dapat menjadi pengelola BUMDes yang termaju,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan pertumbuhan ekonomi desa juga harus tercermin dari meningkatnya produktivitas, pendapatan masyarakat, daya beli, serta berkembangnya aktivitas ekonomi lokal.
Selain penguatan usaha dan hilirisasi, Pemprov Lampung juga melihat peluang sinergi Program Desaku Maju dengan program prioritas pemerintah pusat, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
BUMDes dinilai dapat mengambil peran dalam penyediaan bahan pangan lokal, penguatan rantai pasok, serta pengembangan usaha pendukung program sesuai ketentuan dan standar yang berlaku.
Dengan demikian, kebutuhan program pemerintah dapat dihubungkan dengan potensi produksi masyarakat desa sehingga menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguatkan.
Gubernur menegaskan keberhasilan Program Desaku Maju membutuhkan komitmen bersama antara pemerintah daerah, pengelola BUMDes, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Penguatan kapasitas pengelola menjadi salah satu kunci agar BUMDes mampu mengelola potensi ekonomi desa secara profesional, transparan, serta berorientasi pada manfaat jangka panjang.
“Kalau desa bergerak, maka ekonomi akan tumbuh. Jika ekonomi tumbuh, maka Lampung akan menjadi provinsi yang maju dengan pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Transmigrasi Provinsi Lampung Muhammad Azis Satriya Jaya selaku ketua pelaksana melaporkan, Bimtek Peningkatan Kapasitas BUMDes dalam pelaksanaan Program Desaku Maju diikuti 168 peserta.
Peserta tersebut merupakan direktur BUMDes yang dibagi dalam dua angkatan. Angkatan pertama berlangsung pada 21–23 September 2026, sedangkan angkatan kedua dijadwalkan pada 24–26 September 2026.
Kegiatan itu diharapkan dapat memperkuat kompetensi pengelola BUMDes sekaligus mendukung implementasi Program Desaku Maju di wilayah masing-masing. Melalui peningkatan kapasitas, Pemprov Lampung menargetkan BUMDes dapat berkembang sebagai mitra strategis pembangunan perdesaan, menciptakan lapangan usaha, memperkuat rantai produksi lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menjaga perputaran nilai ekonomi agar semakin banyak dinikmati warga desa.
“Dengan desa yang semakin produktif dan mandiri, Program Desaku Maju diharapkan menjadi salah satu fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Lampung yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(Rian)













