PIJAR MEDIA, TUBABA — Diskusi dan kegiatan seni bertema Film Dokumenter “Pesta Babi” di Pasar Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT), Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, menjadi ruang refleksi mengenai hubungan pembangunan, alam, dan kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut digelar Sabtu (30/05/2026). Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, selaku pemantik dan ketua panitia penyelenggara kegiatan, menilai tema yang diangkat dalam film “Pesta Babi” penting menjadi bahan pembicaraan publik karena berkaitan dengan arah pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.
Menurut Semi, proyek pembangunan berskala besar seperti food estate yang disinggung dalam substansi film menyerap anggaran negara dalam jumlah besar sehingga patut dikaji dampak dan manfaatnya bagi masyarakat luas, termasuk terhadap pembangunan di berbagai daerah.
“Persoalan pembangunan dan pengelolaan sumber daya perlu menjadi bahan refleksi bersama, kebijakan yang terlalu menghamburkan anggaran juga menjadi salah satu penyebab terhambatnya pembangunan infrastruktur di daerah termasuk di Lampung dan Tubaba, sehingga jalan-jalan nya banyak jelek karena tidak ada anggaran atau hanya kecil sekali yang diberikan dari APBN,” demikian pandangan yang disampaikan Semi dalam diskusi.
Kegiatan yang berlangsung di lantai satu Pasar Pulung Kencana sejak pukul 19.00 WIB. Hingga 21.30 WIB. Itu diikuti sekitar 70 peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
Semula, agenda dirancang dalam format Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Namun, pemutaran film batal dilaksanakan setelah adanya sejumlah kendala termasuk adanya kegiatan konser musik yang berbarengan di area Pasar Pulung Kencana.
Meski demikian, panitia tetap melanjutkan agenda yang telah dipersiapkan melalui kegiatan menggambar dan diskusi publik.
Rangkaian acara diawali dengan sesi menggambar “Babi” yang diikuti peserta. Aktivitas seni tersebut menjadi media ekspresi sekaligus ruang interaksi awal sebelum memasuki pembahasan utama.
Suasana kemudian berlanjut ke sesi diskusi yang berlangsung dinamis. Berbagai pendapat, pertanyaan, dan pandangan muncul dari peserta maupun para pemantik kegiatan.
Diskusi menghadirkan tiga pemantik, yakni Direktur Sekolah Seni Tubaba Semi Ikra Anggara, Wakil Sekolah Seni Tubaba John Heryanto, serta Aktivis Ikatan Mahasiswa Papua Lampung (IKMAPAL), Kristianus Bobii.
Dalam forum itu, John Heryanto menjelaskan bahwa meskipun film tidak diputar, substansi pembahasan tetap mengacu pada tema yang diangkat dalam Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”.
Sebagai pengantar diskusi, panitia membagikan buku berjudul “TUHAN BERIKAN TANAH PADA LELUHUR, KAMI MENJAGANYA!” kepada peserta.
Melalui buku pengantar tersebut dijelaskan bahwa film berdurasi 90 menit karya Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale itu digarap selama lima tahun di sejumlah wilayah Papua Selatan, dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat adat dalam mempertahankan ruang hidup di tengah berbagai proyek pembangunan.
Dalam pengantar itu disebutkan bahwa hutan bagi masyarakat adat Papua tidak hanya menjadi sumber pangan melalui aktivitas berburu dan hasil hutan, tetapi juga memiliki nilai spiritual serta menjadi bagian dari adat dan tata kehidupan masyarakat.
Pandangan mengenai alam sebagai sumber pengetahuan dan pedoman hidup, menurut pengantar tersebut, juga hidup di berbagai masyarakat adat Nusantara, termasuk falsafah “Jagat Jadei Guru, Adat Jadei Laku” di Lampung.
John Heryanto dalam diskusi menyampaikan bahwa substansi film membuka ruang refleksi mengenai hubungan antara pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Menurut dia, perjuangan menjaga ruang hidup merupakan bagian dari upaya menjaga alam, cinta, dan masa depan.
Sementara itu, Kristianus Bobii menilai film tersebut menggambarkan kondisi Papua dalam beberapa tahun terakhir yang menurut pandangannya menghadapi tekanan terhadap kawasan hutan akibat kepentingan pembangunan skala besar.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan pembangunan yang menghargai nilai leluhur serta budaya lokal.
Kegiatan yang digagas Sekolah Seni Tubaba bersama unsur masyarakat itu dilaksanakan secara swadaya dan gotong royong. Meski agenda Nobar tidak terlaksana, forum tetap menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai pandangan mengenai persoalan sosial, lingkungan, dan budaya melalui pendekatan seni serta diskusi publik.
(Rian)













