PIJAR MEDIA, TUBABA – Sekitar 100 peserta didik Sekolah Seni Tulang Bawang Barat (Tubaba), menampilkan hasil pembelajaran selama tiga bulan dalam Resital Sekolah Seni Tubaba, Provinsi Lampung, tahun 2026.
Kegiatan tersebut digelar di Selasar Tiyuh-Tiyuh dan Galeri Nuwo Kayu, Kompleks Sekolah Seni Tubaba, Uluan Nughik, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT), Jumat (10/07/2026).
Mengusung tema “Pertumbuhan Kesadaran”, kegiatan ini menjadi presentasi akhir peserta didik dari kelas seni rupa, musik, teater, dan tari sekaligus tahapan menuju penyelenggaraan Tubaba Art Festival (TAF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, mengatakan resital merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dengan 16 hingga 20 kali pertemuan.
“Resital ini adalah presentasi akhir dari proses latihan peserta didik. Mereka belajar seni tari, teater, musik, dan seni rupa selama sekitar tiga bulan. Ini juga menjadi tahapan menuju Tubaba Art Festival. Bisa dikatakan resital ini ibarat 50 persen dari Tubaba Art Festival,” ujar Semi, saat dikonfirmasi media di lokasi kegiatan.
Ia menjelaskan, jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar 100 orang. Jumlah itu menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar antara 150 hingga 200 peserta.
Menurutnya, penurunan tersebut dipengaruhi dimulainya proses pembelajaran yang baru berlangsung pada April 2026, lebih lambat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dimulai pada akhir Februari atau awal Maret. Selain itu, keterbatasan anggaran dan waktu tenaga pengajar juga menjadi tantangan dalam penyelenggaraan kegiatan.
Mayoritas peserta berusia 7 hingga 17 tahun, meski terdapat pula peserta berusia di bawah lima tahun hingga sekitar 19 tahun.
Semi menuturkan, selama mengikuti pembelajaran peserta tidak dikenakan biaya secara resmi. Namun, karena belum tersedia anggaran operasional, orang tua bersama peserta secara sukarela memberikan dukungan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan, termasuk biaya operasional seperti listrik.
Ia juga mengungkapkan dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Tubaba untuk pelaksanaan resital direncanakan sekitar Rp70 juta. Meskipun hingga kegiatan berlangsung, realisasinya masih belum diterima.
Sementara itu, kebutuhan anggaran penyelenggaraan Tubaba Art Festival 2026 nantinya, diperkirakan mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta dan hingga kini juga belum terdapat kepastian alokasi dari pemerintah daerah.
“Selama ini kami bertahan melalui penjualan produk, tabungan organisasi maupun pribadi, dukungan sponsor non pemerintah, serta bantuan fasilitas dari pemerintah pusat apabila tersedia,” kata Semi.
Ia berharap pemerintah daerah terus memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan seni dan kebudayaan di Tubaba yang dinilai telah menjadi salah satu identitas daerah.
Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tubaba, Yusep, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Resital Sekolah Seni Tubaba. Menurutnya, pemerintah daerah tentunya akan mendukung kegiatan kebudayaan yang mampu mengembangkan potensi generasi muda sekaligus mengharumkan nama daerah.
“Resital ini menjadi ruang apresiasi bagi anak-anak serta remaja untuk menampilkan hasil pembelajaran seni budaya. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong pelestarian seni dan budaya di Kabupaten Tubaba. Kita berkomitmen akan berupaya membantu dan mendukung kegiatan seni dan budaya yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Berdasar pantauan media, rangkaian kegiatan diawali dengan tur pameran karya kelas seni rupa anak dan remaja di Galeri Nuwo Kayu, dilanjutkan sambutan, kemudian pertunjukan musik, teater, serta tari yang dibawakan para peserta didik yang turut disaksikan para tamu undangan maupun masyarakat setempat.
(Rian)













