PIJAR MEDIA, TUBABA — Upaya meningkatkan partisipasi politik generasi muda menuju Pemilu 2029 mulai dipersiapkan sejak dini. Pendidikan pemilih terus dilakukan dengan menyasar pemilih pemula melalui sosialisasi langsung hingga pemanfaatan media sosial.
Ketua Midiyan, S.Sos., didampingi Plt Sekretaris Wahyu Ari Bowo, S.H., mengatakan pendidikan pemilih telah berjalan sejak tahapan Pemilu dan Pilkada sebelumnya berakhir. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu.
“Sejak setelah tahapan pemilu dan pilkada selesai, sebenarnya sudah kita jalankan. Sosialisasi tetap dilakukan meskipun sekarang ada efisiensi anggaran,” kata Midiyan, didampingi Wahyu saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya, Kamis (13/08/2026).
Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak menghentikan kegiatan pendidikan pemilih. Sosialisasi dilakukan dengan mengoptimalkan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, seperti sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dan kelompok masyarakat lainnya.
“Generasi muda dan pemilih pemula menjadi salah satu sasaran utama. Kelompok ini dinilai strategis karena akan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas partisipasi pada Pemilu 2029,” jelasnya.
Sosialisasi dilakukan secara rutin. Dalam kondisi tertentu, kegiatan dapat dilaksanakan satu hingga dua kali dalam sebulan.
Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan teknis pemilu, tetapi juga mencakup pengenalan penyelenggara pemilu, tugas dan fungsi penyelenggara, pentingnya demokrasi, penggunaan hak pilih serta tanggung jawab sebagai warga negara.
Generasi muda yang telah berusia 17 tahun juga didorong segera melakukan perekaman administrasi kependudukan sebagai bagian dari persiapan memperoleh hak pilih.
“Harapannya, anak-anak muda ini memahami bahwa menggunakan hak pilih merupakan bagian dari kehidupan demokrasi,” ujarnya.
Midiyan juga menjelaskan, kategori pemilih pemula tidak hanya mereka yang baru berusia 17 tahun. Warga yang sebelumnya belum pernah menggunakan hak pilih juga dapat masuk kategori tersebut, termasuk pensiunan TNI/Polri yang baru mendapatkan kesempatan menggunakan hak pilih setelah memasuki masa pensiun.
“Selain sosialisasi tatap muka, pendidikan pemilih juga dilakukan melalui media sosial. Salah satunya melalui program Rabu Tahu Pemilu. Program tersebut menyajikan konten informasi kepemiluan setiap Rabu. Pemanfaatan media digital dinilai penting untuk menjangkau generasi muda yang sehari-hari dekat dengan berbagai platform media sosial,” terangnya.
Informasi yang disampaikan diarahkan agar mudah dipahami masyarakat sekaligus memberikan edukasi kepemiluan secara berkelanjutan.
Berdasarkan keterangan Midiyan, tingkat partisipasi pada pilkada sebelumnya berada di kisaran 71-72 persen.
“Untuk Pemilu 2029, target resmi partisipasi belum dapat dipastikan karena masih menunggu perkembangan dan ketetapan lebih lanjut,” ungkapnya.
Di sisi lain, jumlah pemilih saat ini berada di kisaran 220 ribu. Angka tersebut masih dinamis karena dapat berubah mengikuti penambahan pemilih baru, perubahan data kependudukan, serta proses pemutakhiran data menjelang Pemilu 2029.
Karena itu, peningkatan partisipasi dinilai perlu dipersiapkan jauh sebelum tahapan pemilu berlangsung.
Keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan sosialisasi. Saat ini, kegiatan pendidikan pemilih tidak memiliki anggaran khusus sehingga pelaksanaannya lebih banyak mengandalkan kolaborasi.
Selain persoalan anggaran, tantangan lainnya adalah memastikan informasi kepemiluan yang akurat dapat menjangkau seluruh pemilih pemula serta meningkatkan kualitas pemahaman politik generasi muda.
Midiyan menilai peningkatan partisipasi bukan semata-mata menjadi tanggung jawab penyelenggara pemilu. Partai politik, pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas hingga keluarga juga memiliki peran dalam membangun kesadaran politik masyarakat.
“Partai politik juga diharapkan dapat secara masif memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Jadi bukan hanya penyelenggara pemilu, tetapi seluruh stakeholder harus ikut mendorong partisipasi,” tegasnya.
Dengan persiapan yang dilakukan sejak jauh hari, pendidikan pemilih diharapkan tidak sekadar meningkatkan jumlah warga yang datang ke tempat pemungutan suara, tetapi juga melahirkan pemilih yang memahami hak, kewajiban, serta pentingnya menentukan pilihan secara bertanggung jawab.
“Upaya ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi Pemilu 2029 sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di tingkat masyarakat,” pungkasnya.
(Rian)













