Harga Komoditas Tubaba Stabil, Gabah-Jagung hingga Karet Naik

Foto : Kepala Diskoperindag Tubaba, Achmad Nazaruddin

PIJAR MEDIA, TUBABA — Harga sejumlah komoditas unggulan di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, pada Agustus 2026 terpantau relatif stabil. Namun, harga gabah, jagung, dan karet mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tubaba, Achmad Nazaruddin, mengatakan pemantauan harga dilakukan secara berkala di tingkat pabrik dan lapak untuk mengetahui perkembangan harga sekaligus mengantisipasi kendala yang dapat memengaruhi produksi maupun perdagangan.

“Secara umum harga komoditas masih relatif stabil dan aktivitas jual beli di tingkat pabrik maupun lapak berjalan normal,” kata Achmad, Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan Diskoperindag Tubaba, sejumlah komoditas diantaranya harga sawit berada di kisaran Rp2.800-Rp3.000 per kilogram di Berkah Jaya, Tiyuh (Desa) Candra Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah. Harga tersebut relatif stabil.

Sementara karet dibeli Rp15.000-Rp17.000 per kilogram seperti di lapak karet di Sang Ratu Grup, Tiyuh Gedung Ratu, Kecamatan Tulang Bawang Udik. Harga karet naik sekitar Rp300 per kilogram dibandingkan bulan sebelumnya.

Untuk tebu, harga pembelian tercatat Rp530 per kilogram di PT GPM dan masih relatif stabil. Sedangkan singkong berada di harga Rp2.000 per kilogram dengan potongan 15 persen di PT BTJ, Tiyuh Karta.

Kenaikan juga terjadi pada komoditas pangan. Harga gabah mencapai Rp7.800 per kilogram di PP Suka Maju, Tiyuh Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, atau naik sekitar Rp200 per kilogram dibandingkan bulan sebelumnya.

Harga jagung juga naik sekitar Rp200 per kilogram menjadi Rp4.700 per kilogram di lokasi yang sama.

Achmad mengatakan sejauh ini belum terdapat kendala berarti dalam aktivitas perdagangan komoditas unggulan di Tubaba. Namun, kondisi musim kemarau menjadi perhatian karena keterbatasan air dapat berdampak terhadap kegiatan pertanian.

BACA JUGA :  Pemkab Tubaba Pastikan Lahan KDKMP Bebas Sengketa dan Tak Ada Penolakan

“Kondisi kemarau berpotensi memengaruhi ketersediaan hasil panen, produktivitas tanaman, waktu panen hingga pasokan komoditas ke pabrik atau lapak,” ujarnya.

Menurutnya, apabila kekurangan air berlangsung cukup lama dan menyebabkan produksi turun secara signifikan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pasokan dan stabilitas harga komoditas.

Selain faktor cuaca, pergerakan harga juga dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat. Sebagian komoditas mengikuti regulasi nasional sehingga perubahan kebijakan dapat berdampak terhadap harga di daerah.

“Dinamika ekonomi global, termasuk perkembangan ekspor dan impor, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Perubahan permintaan pasar global, kebijakan perdagangan, serta kondisi ekonomi negara tujuan ekspor dapat memengaruhi harga komoditas di tingkat daerah,” jelasnya.

Meski demikian, Diskoperindag menilai kondisi perdagangan komoditas unggulan Tubaba pada Agustus 2026 masih relatif kondusif. Kenaikan harga gabah, jagung, dan karet menjadi perkembangan positif bagi petani karena meningkatkan nilai jual hasil produksi.

Pemerintah daerah tetap perlu mengantisipasi agar perubahan harga tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah yang dapat merugikan petani dan pelaku usaha.

Diskoperindag Tubaba akan terus melakukan pemantauan harga dan produksi secara berkala, termasuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap hasil pertanian.

“Koordinasi antara pemerintah daerah, petani, pabrik dan pelaku perdagangan juga akan diperkuat. Selain itu, perkembangan kebijakan pemerintah pusat serta kondisi pasar nasional dan global akan terus dipantau. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga, memastikan kelancaran distribusi, serta mengantisipasi perubahan produksi dan kondisi pasar yang dapat memengaruhi kesejahteraan masyarakat, khususnya petani di Tubaba,” pungkasnya.

(Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *