PIJAR MEDIA, TUBABA – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STES Tunas Palapa Tulang Bawang Barat (Tubaba) menggelar kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG) II sebagai upaya memperkuat kaderisasi dan meningkatkan pemahaman kader terkait kesetaraan gender serta isu-isu sosial kemasyarakatan.
Kegiatan yang berpusat di Balai Tiyuh Daya Asri, Kecamatan Tumijajar, 23-24 Mei 2026, turut dihadiri Pengurus Cabang (PC) PMII Kabupaten Tulang Bawang, Perwakilan PC PMII Kabupaten Mesuji, Jajaran Pengurus IKA PMII Tubaba dan tamu undangan lainnya.
Kegiatan tersebut juga diwarnai dengan nonton bareng (Nobar) film dokumenter “Pesta Babi” yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik karena mengangkat kondisi masyarakat Papua.
Ketua Korpri PMII (Kopri) STES Tunas Palapa Tubaba, Nuradila Prastiya, mengatakan SIG II menjadi ruang kaderisasi awal bagi kader Kopri agar mampu memahami peran perempuan serta isu ketidakadilan gender yang masih terjadi di tengah masyarakat.
“Pada kegiatan SIG II ini kami merevitalisasi gerakan kader agar dapat kembali bergerak dan menemukan perannya di berbagai bidang. Masih banyak hal terkait ketidakadilan gender yang perlu kita bahas bersama,” ujarnya.
Menurut Nuradila, PMII hadir sebagai wadah perjuangan perempuan untuk memperoleh ruang berekspresi dan menyampaikan aspirasi.
“Dulu perempuan sering tidak diberi ruang, akhirnya kami membuat ruang di dalam ruang melalui kader Kopri ini,” katanya.
Ia menjelaskan, setelah SIG II para kader nantinya akan mengikuti jenjang kaderisasi lanjutan yakni Sekolah Kader Kopri (SKK) yang dilaksanakan di tingkat cabang atau kabupaten.
“Di SKK nanti kader akan lebih diarahkan terkait bagaimana peran mereka di masyarakat dan apa yang harus dilakukan sebagai kader Kopri,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diselingi untuk menonton film “Pesta Babi” yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat Papua.
Dalam hal ini, Nuradila menilai film tersebut membuka pandangan luas bagi mahasiswa terhadap realitas ketimpangan yang terjadi di daerah lain, khususnya di Papua.
“Kami melihat ternyata masih ada masyarakat yang mengalami ketidakadilan. Dari film itu bisa menjadi bahan pembelajaran dan diskusi bagi kami sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Ia menyebut, sebaiknya setelah menonton film itu diadakan diskusi khusus, tetapi karna keterbatasan waktu, diskusinya ditiadakan dulu.
Sementara itu, Ketua Komisariat PMII STES Tunas Palapa Tubaba, Dzaky Bachtiar, juga mengatakan film tersebut memberikan gambaran bahwa proyek-proyek besar yang berdampak terhadap masyarakat bukan hanya terjadi saat ini, melainkan telah berlangsung sejak pemerintahan sebelumnya.
“Dari film itu kita jadi tahu bahwa Papua ternyata menyimpan banyak cerita yang cukup memprihatinkan dan menyedihkan,” kata Dzaky.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kepedulian dan keberanian untuk menyuarakan ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat.
Sementara itu, Ketua PC PMII Tulang Bawang, Kurnia Akbar Prasetya, menambahkan bahwa SIG merupakan kaderisasi tingkat kedua setelah Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang berfokus pada pendalaman isu kesetaraan gender dalam perspektif Islam.
“Peserta diberikan pemahaman bahwa hukum Islam itu adil. Harapannya kader Kopri mampu menyuarakan isu-isu khususnya yang terjadi pada perempuan,” jelasnya.
Ia juga menilai refleksi nobar film “Pesta Babi” penting untuk menumbuhkan kesadaran kritis kader terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
“Saya sepakat jika program pembangunan itu niatnya baik, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar. Kita melihat bagaimana masyarakat Papua mengungsi dan bagaimana kerusakan lingkungan dapat mengancam kelestarian alam,” ungkapnya.
Kurnia berharap, melalui kegiatan tersebut kader PMII tidak hanya memiliki kepekaan sosial, tetapi juga kepedulian terhadap hubungan manusia dengan alam.
“Kalau ketimpangan tidak disuarakan, bukan tidak mungkin hal itu terjadi di daerah lain, bahkan di daerah kita sendiri,” Imbuhnya.(Red)







