PIJAR MEDIA, TUBABA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mulai mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Program yang digagas Bupati bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tubaba tersebut dipusatkan di TPS 3R Kelurahan Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT). Pengolahan ini menjadi salah satu upaya mengurangi sampah plastik sekaligus menciptakan nilai guna dan nilai ekonomi dari limbah.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tubaba, Dwi Supriyanto, S.T., mengatakan program tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba dan evaluasi.
“Program ini kita kembangkan untuk mengolah sampah plastik menjadi BBM. Saat ini masih dalam tahap uji coba dan evaluasi untuk melihat efektivitas serta keberlanjutannya,” kata Dwi mewakili Kepala DLH Iwan Setiawan saat dikonfirmasi media pada Rabu (02/09/2026).
Dalam program tersebut, DLH Tubaba menggunakan Mesin Pirolisis Gen 5 yang diproduksi oleh Bank Sampah Banjarnegara atau PT BSB, Jawa Tengah.
Mesin tersebut juga terdiri dari sejumlah komponen lainnya seperti tungku, treatment, katalis hingga toren sirkulasi. Pengadaan mesin dilakukan menggunakan APBD Tubaba Tahun Anggaran 2026 melalui mekanisme e-purchasing pada e-katalog.
Nilai pengadaan mesin mencapai Rp158,73 juta yang telah mencakup biaya pengiriman dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
“Proses pemesanan dimulai pada 22 Juli 2026. Mesin kemudian dibeli pada Agustus 2026 dan tiba di Kabupaten Tubaba pada akhir Agustus,” jelas Dwi.
Dwi menjelaskan mesin pirolisis tersebut bekerja dengan mengurai sampah plastik melalui proses pemanasan untuk menghasilkan BBM.
Kapasitas pengolahan mesin mencapai sekitar 50 kilogram sampah plastik per hari. Dari bahan baku tersebut, mesin diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 40-45 liter BBM.
Proses produksi membutuhkan waktu sekitar 8-11 jam per hari dan kegiatan produksi dimulai sekitar pukul 06.00 WIB.
“Untuk hasilnya, dari sekitar 50 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan kurang lebih 40 sampai 45 liter BBM. Tetapi semuanya masih terus kita evaluasi,” jelasnya.
BBM hasil pengolahan tersebut disebut memiliki karakteristik yang setara dengan bahan bakar jenis solar dan Pertamina Dex. Namun, DLH Tubaba masih melakukan kajian terkait kualitas, harga, serta mekanisme pemanfaatan dan penjualannya.
“Mesin pirolisis milik kita ini telah menjalani uji coba selama kurang lebih satu pekan. Dalam masa tersebut, DLH Tubaba telah melakukan tiga kali proses produksi. BBM yang dihasilkan kemudian diuji coba pada sejumlah kendaraan, termasuk kendaraan milik Bupati Tubaba dan Kepala DLH Tubaba,” ungkapnya.
Menurut Dwi, penggunaan BBM hasil pengolahan pada kendaraan tersebut berjalan aman dan lancar selama pengujian.
Mesin pirolisis yang digunakan juga disebut telah memiliki hak paten dari pihak produsen dan telah melalui sejumlah pengujian, termasuk pengujian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Untuk mendukung operasional, saat ini terdapat dua tenaga operator. Satu operator menangani proses produksi atau pemasakan, sementara satu operator lainnya bertugas pada bagian treatment,” tuturnya.
Ia menerangkan, bahan baku utama berasal dari sampah plastik yang dikumpulkan dari masyarakat Kelurahan Mulya Asri, TPS 3R Mulya Asri dan TPA Kabupaten Tubaba.
Mesin tersebut dapat mengolah berbagai jenis sampah plastik. Namun, plastik yang mengandung aluminium foil dan PVC tidak digunakan karena dapat memengaruhi kualitas maupun hasil produksi BBM.
“DLH Tubaba juga membeli sampah plastik yang memenuhi persyaratan bahan baku dari masyarakat dengan harga sekitar Rp500 per kilogram. Selain sampah plastik, proses produksi membutuhkan kayu bakar sebagai salah satu komponen biaya operasional,” terangnya.
DLH saat ini masih menghitung seluruh biaya produksi, mulai dari pembelian bahan baku, kayu bakar, tenaga operator hingga biaya operasional lainnya, hingga harga penjualan yang sesuai dari BBM yang dihasilkan.
“Jadi kita masih dalam tahap kajian dan dapat mengalami penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi. Jika hasil evaluasi menunjukkan program berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan, DLH Tubaba juga berencana meningkatkan kapasitas pengolahan,” paparnya.
Salah satu rencana yang disiapkan yakni menambah mesin pirolisis di sejumlah kecamatan. Pengembangan nantinya akan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kelompok masyarakat pengelola sampah dan kesiapan lokasi.
DLH Tubaba juga membuka peluang menggandeng perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pengembangan pengolahan sampah menjadi BBM di tingkat kecamatan.
Dengan pengelolaan yang lebih dekat dengan sumber sampah, program tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah plastik yang masuk ke TPA sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Harapannya, sampah plastik ini tidak hanya menjadi masalah, tetapi bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Program ini akan kita kembangkan lebih luas. Jadi mulai saat ini jangan lagi membuang sampah plastik, ini adalah emas untuk masa depan,” pungkas Dwi.
(Rian)













