PIJAR MEDIA, BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menargetkan pengiriman 10.000 tenaga kerja ke luar negeri, khususnya Jepang, pada tahun 2027 mendatang.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah daerah memperkuat pelatihan vokasi agar generasi muda memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, penguatan kompetensi generasi muda menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal itu disampaikan Mirza saat membuka Grand Launching Program Tailor Made Training (TMT) Kementerian Ketenagakerjaan se-Provinsi Lampung di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, Senin (2/11/2026).
“Pemerintah Provinsi Lampung sangat sadar bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran Lampung ke depan ada pada anak-anak mudanya. Karena itu, mereka harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi agar setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,” ujar Mirza.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar dari sisi demografi maupun sumber daya alam. Sekitar 71 persen penduduk Lampung berada pada usia angkatan kerja. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan lapangan pekerjaan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Setiap tahun, Lampung menghasilkan sekitar 130.000 lulusan SMA dan sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan sekitar 100.000 lainnya tidak melanjutkan kuliah.
Mirza menilai, kondisi tersebut membutuhkan langkah konkret melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan kewirausahaan agar generasi muda memiliki lebih banyak pilihan dalam memasuki dunia kerja.
Selain peluang kerja ke luar negeri, Pemprov Lampung juga mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Sekitar 60 persen anak muda Lampung disebut berasal dari keluarga petani sehingga peningkatan keterampilan perlu diarahkan pada pengolahan hasil pertanian dan perkebunan.
Dia mencontohkan kopi robusta Lampung yang memiliki kontribusi besar terhadap produksi dan ekspor nasional. Sekitar 74 persen ekspor kopi robusta Indonesia disebut berasal dari Lampung. Namun, sebagian besar komoditas tersebut masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Menurut Mirza, pengolahan kopi menjadi produk siap konsumsi dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru. Hal serupa juga berlaku bagi komoditas pisang, jagung, dan singkong.
Salah satu peluang yang tengah didorong adalah pengembangan industri pakan ternak di tingkat desa. Pemanfaatan sekitar 30 persen produksi jagung Lampung untuk industri pakan lokal diperkirakan berpotensi membuka sekitar 2.000 lapangan pekerjaan dan 400 hingga 500 unit usaha baru.
Untuk mendukung pengembangan usaha tersebut, Pemprov Lampung juga menyiapkan program pembiayaan tanpa bunga atau nol persen bagi anak muda yang ingin memulai dan mengembangkan usaha.
Terkait kesempatan kerja internasional, Mirza menyampaikan bahwa pemerintah daerah berupaya memperluas akses tenaga kerja Lampung ke negara dengan tingkat penghasilan lebih tinggi, salah satunya Jepang.
“Pemprov Lampung menargetkan pengiriman 10.000 tenaga kerja pada tahun mendatang. Pengalaman, keterampilan, dan modal yang diperoleh selama bekerja di luar negeri diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha ketika mereka kembali ke daerah,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu melaporkan, hingga peluncuran program TMT telah diterima 268 usulan pelatihan dengan jumlah calon penerima manfaat mencapai 5.788 orang.
Usulan tersebut berasal dari koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serikat pekerja, serta kelompok strategis lainnya.
“Usulan pelatihan yang masuk mencapai 268 dengan jumlah calon penerima manfaat sebanyak 5.788 orang. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan mitra pengguna tenaga kerja,” jelas Agus.
Terdapat 17 bidang kejuruan yang diusulkan, meliputi bisnis dan manajemen, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan, pengolahan produk bakery, kewirausahaan, tata rias, tata busana, perikanan, pertanian, barista, pemandu wisata, public speaking, housekeeping, bahasa Jepang, pengelasan, dan kelistrikan.
Agus menjelaskan, program TMT dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi.
Melalui program ini, pelatihan tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga menitikberatkan keterampilan praktis, budaya kerja, kedisiplinan, produktivitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di lingkungan perguruan tinggi, Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Wan Jamaluddin Z. menyampaikan bahwa pelaksanaan TMT di kampusnya diikuti 288 mahasiswa yang terbagi dalam 18 kelas.
Sebanyak 176 mahasiswa mengikuti 11 kelas Batch 1 pada 19–23 Oktober 2026, sedangkan 112 mahasiswa lainnya mengikuti tujuh kelas Batch 2 pada 2–6 November 2026.
Materi yang diberikan mencakup digital marketing, digital marketing affiliate, desain grafis, pengelolaan sampah terpadu, halal chain, audit, komputer, produktivitas, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang Kementerian Ketenagakerjaan Adi Nugroho mengatakan, pihaknya menargetkan sekitar 5.000 peserta pelatihan dari Lampung pada 2026.
“Untuk tahun 2026, kami menargetkan sekitar 5.000 peserta pelatihan dari Lampung. Pada 2027, target tersebut direncanakan meningkat menjadi 7.000 peserta dengan jangkauan pelatihan yang lebih luas,” kata Adi.
Dia menambahkan, pelaksanaan pelatihan ke depan tidak hanya menyasar perguruan tinggi, tetapi juga diperluas hingga desa-desa, terutama pada sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, Kementerian Ketenagakerjaan, perguruan tinggi, dan dunia usaha, program TMT diharapkan mampu meningkatkan daya saing tenaga kerja sekaligus memperluas kesempatan kerja.
Dengan demikian, generasi muda Lampung diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan untuk memasuki pasar kerja, termasuk di luar negeri, tetapi juga mampu memanfaatkan keterampilan dan potensi daerah untuk membangun usaha serta menciptakan lapangan pekerjaan baru.
(Rian)













