PIJAR MEDIA, TUBABA — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mencatat 14 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga awal September 2026.
Dari seluruh kejadian tersebut, petugas Damkarmat memastikan setiap kebakaran berhasil ditangani sehingga tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan.
Kepala Damkarmat Tubaba, Sujatmiko, mengatakan penanganan karhutla menjadi salah satu perhatian petugas, terutama ketika kebakaran terjadi di lahan terbuka yang berpotensi merambat ke perkebunan maupun permukiman warga.
“Alhamdulillah untuk kejadian karhutla di Tubaba semua tertangani dengan baik dengan total 14 kejadian sejak Januari hingga awal September 2026,” kata Sujatmiko saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya, Kamis (03/09/2026).
Berdasarkan pemetaan Damkarmat Tubaba, kejadian karhutla tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Penumangan, Panaragan Jaya, Pemekaran SP 6, Pulung Kencana, Lambu Kibang, Gedung Ratu, Pagar Dewa hingga Penumangan Baru.
Jenis lahan yang terbakar juga beragam, mulai dari lahan tebu, kebun karet, semak di pinggir jalan tol, lahan gambut atau rawa, lahan bekas tanaman singkong hingga kawasan tempat pembuangan akhir atau TPA.
Total luasan lahan yang terdampak dari 14 kejadian tersebut diperkirakan mencapai sekitar 32 hektare. Angka tersebut belum termasuk kejadian di Lambu Kibang yang berada di area semak pinggiran Tol KM 203 dengan panjang area terdampak sekitar 2 kilometer.
Kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di Panaragan Jaya dengan luas sekitar 8 hektare. Kemudian Pagar Dewa sekitar 5 hektare dan Penumangan sekitar 4 hektare. Sementara kejadian lainnya rata-rata berada pada kisaran 1-2 hektare.
Sujatmiko menjelaskan, salah satu dampak yang paling dirasakan dari karhutla adalah asap. Selain berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat, asap juga dapat merambat ke area perkebunan apabila api tidak segera dikendalikan.
“Risikonya lebih besar kalau lokasi kebakaran berada dekat dengan permukiman. Seperti kejadian di Panaragan Jaya pada 31 Agustus 2026 yang lokasinya berada dekat rumah warga,” ujarnya.
Selain permukiman, kebakaran di sekitar jalan tol juga menjadi perhatian. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran semak di pinggir tol dapat mengganggu jarak pandang pengguna jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Dalam menjalankan tugas, petugas Damkarmat juga menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Dua kendala yang paling sering ditemui yakni akses menuju titik kebakaran dan keterbatasan sumber air untuk pengisian armada pemadam.
Kendala tersebut terutama dirasakan saat kebakaran terjadi di kawasan perkebunan atau lahan yang sulit dijangkau kendaraan.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Damkarmat Tubaba memastikan seluruh kejadian yang tercatat sepanjang 2026 dapat ditangani dengan baik.
“Alhamdulillah sejauh ini dapat tertangani semuanya dan kita berharap tidak ada lagi kejadian serupa,” terang Sujatmiko.
Berdasarkan catatan Damkarmat, kejadian karhutla masih terjadi hingga awal September. Pada 2 September 2026, misalnya, terdapat dua kejadian kebakaran, yakni lahan bekas tanaman singkong di belakang Islamic Center, Panaragan Jaya, seluas sekitar 1 hektare dan lahan karet di Panaragan sekitar 1 hektare.
Sujatmiko mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di lahan terbuka.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin sebelum api merambat ke perkebunan maupun permukiman.
“Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat juga bisa ditangani sebelum meluas,” pungkasnya.
(Rian)













