Ekonomi Hijau Singkong Lampung Dinilai Bisa Dongkrak Petani

Foto : Risma Fatma Sari, M.E.

PIJAR MEDIA, TUBABA — Pengembangan ekonomi hijau (green economy) melalui sektor pertanian dan industri pengolahan singkong dinilai menjadi peluang besar bagi Provinsi Lampung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendorong kesejahteraan petani.

Ketua Korpri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Risma Fatma Sari, M.E., menilai pengembangan ekosistem ekonomi hijau di sektor pertanian dan industri pengolahan singkong merupakan langkah positif. Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.

Namun, Risma mengingatkan agar program tersebut tidak hanya berjalan dalam jangka pendek.

“Pengembangan green economy harus dirancang sebagai ekosistem jangka panjang yang melibatkan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Risma, Jumat (14/08/2026).

Menurutnya, keberlanjutan program perlu dibarengi dengan kesetaraan akses, keterlibatan petani dan pelaku usaha lokal, transparansi pelaksanaan serta pemerataan manfaat.

Risma menekankan, pengembangan industri singkong jangan sampai hanya memberikan keuntungan kepada kelompok atau pihak tertentu. Masyarakat, terutama petani dan pelaku usaha lokal, harus memperoleh kesempatan yang adil untuk merasakan manfaat pembangunan.

“Seluruh masyarakat memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat dari program pembangunan,” ujarnya.

Ia menilai, apabila dikembangkan secara inklusif dan berkelanjutan, ekosistem singkong berpotensi meningkatkan pendapatan petani, memperkuat industri pengolahan, membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM berbasis singkong serta meningkatkan daya saing produk lokal.

Karena itu, Risma berharap pengembangan ekonomi hijau tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Advokat, Konsultan Hukum sekaligus Pengamat Politik asal Tubaba, Ahmad Basri, S.IP., S.H., menilai Lampung memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem ekonomi singkong dari sektor hulu hingga hilir.

BACA JUGA :  Gebyar KONI Expo 2026, ESI Mesuji Ambil Peran Gelar Turnamen E-Sport Bergengsi 12 Mei Mendatang

Menurut pria yang akrab disapa Abas itu, Lampung tidak hanya memiliki basis produksi ubi kayu, tetapi juga industri pengolahan tapioka yang telah berkembang. Kondisi tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat keterhubungan antara petani, pemerintah dan pelaku industri.

“Jangan sampai industri tumbuh, tetapi petaninya tetap miskin,” kata Abas.

Ia menegaskan konsep ekonomi hijau tidak boleh berhenti sebagai slogan. Implementasinya harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat, terutama petani sebagai produsen bahan baku.

Abas menyebut sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari harga singkong yang layak bagi petani, peningkatan produktivitas, kepastian bahan baku bagi industri, perlindungan lingkungan hingga pembangunan rantai pasok yang adil.

Selain itu, Abas mendorong penguatan hilirisasi singkong. Menurutnya, komoditas tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung mocaf, bioetanol, produk pangan olahan, pakan, bioplastik hingga bahan baku industri lainnya.

“Yang penting bukan hanya berapa besar investasi yang masuk, tetapi berapa besar nilai tambah yang kembali kepada masyarakat dan petani,” ujarnya.

Menurut Abas, pengembangan industri hilir dapat memperluas pasar sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penjualan singkong sebagai bahan baku dengan nilai tambah yang relatif terbatas.

Ia berharap pengembangan ekonomi hijau di Lampung diarahkan menjadi konsep green prosperity, yakni pertumbuhan ekonomi yang berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perlindungan lingkungan.

Dengan pola tersebut, pengembangan sektor singkong di Lampung diharapkan mampu menciptakan nilai tambah dari hulu hingga hilir, sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi.

Tantangannya, kata Abas, adalah memastikan pertumbuhan industri berjalan seimbang dengan kepentingan petani dan keberlanjutan lingkungan.

“Jika keseimbangan itu dapat dijaga, sektor singkong dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi hijau sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Sekda Tubaba Matangkan Retribusi 2027, Fokus Genjot PAD Berbasis Data

(Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *