PIJAR MEDIA, TUBABA — Harga singkong di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mengalami kenaikan hingga Rp1.700 per kilogram (Kg). Kenaikan harga dipicu berkurangnya pasokan singkong akibat menurunnya hasil panen, cuaca yang kurang mendukung, serta banyaknya petani yang beralih menanam komoditas lain.
Hasman, selaku PIC CV Central Intan di Kecamatan Gunung Agung, yang merupakan satu diantara perusahaan pengolah ubi kayu Tubaba, saat dikonfirmasi pada Rabu (13/05/2026), mengatakan harga singkong saat ini mencapai Rp1.700 per Kg dengan potongan atau rafaksi sebesar 15 persen sesuai ketentuan Peraturan Gubernur Lampung Nomor 36 Tahun 2025.
Menurut Hasman, tidak dapat dipungkiri kenaikan harga singkong membuat perusahaan pengolahan menghadapi tekanan biaya operasional karena harga bahan baku meningkat, sementara pengeluaran perusahaan tetap berjalan normal.
“Pendapatan perusahaan saat ini kembang kempis karena biaya pembelian bahan baku naik,” ujar Hasman.
Ia menjelaskan, terbatasnya pasokan singkong terjadi karena hasil panen petani menurun dan distribusi dari kebun ke pabrik terhambat cuaca hujan. Kondisi jalan yang rusak di sejumlah titik juga menyulitkan kendaraan pengangkut hasil panen.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tubaba, Achmad Nazaruddin, mengatakan berkurangnya pasokan singkong juga disebabkan banyak petani mulai beralih ke komoditas lain seperti tebu dan kelapa sawit.
Menurut dia, perubahan pola tanam tersebut berdampak pada menurunnya jumlah bahan baku singkong yang masuk ke pabrik pengolahan.
“Pasokan singkong berkurang sehingga harga di pasaran mengalami kenaikan,” kata Nazaruddin didampingi Kepala Bidang Perdagangan, Desmi.
Meski demikian, ia menilai kenaikan harga saat ini memberikan keuntungan bagi petani karena berada di atas harga acuan Pemerintah Provinsi Lampung yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp1.350 per kilogram.
Terpisah, Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Kabupaten Tubaba, Suwarno, menyampaikan bahwa kenaikan harga singkong saat ini tentunya mampu meningkatkan pendapatan petani. Namun, ia berharap harga tersebut dapat dipertahankan agar petani tetap menjadikan singkong sebagai komoditas utama.
Menurut Suwarno, saat ini banyak petani mulai beralih ke tanaman lain seperti jagung, tebu, dan kelapa sawit karena dianggap lebih menjanjikan.
“Kalau harga singkong tetap baik minimal sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) sebagaimana Pergub Nomor 36 Tahun 2025, petani tentu akan bertahan menanam singkong. Oleh karenanya, pemerintah daerah, perusahaan, dan petani perlu memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga serta keberlanjutan produksi singkong agar sektor pertanian dan industri pengolahan tetap berjalan seimbang,” pungkasnya. (Rian)













