PIJAR MEDIA, TUBABA — PT PLN (Persero) terus mendorong efisiensi energi dan mempercepat transisi menuju penggunaan energi non-fosil di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional.
Kepala ULP PLN Pulung Kencana, Sofyan Panji Akbar, mengatakan bahwa PLN UID Lampung mulai mengarahkan kebijakan energi pada pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai strategi jangka panjang.
“Energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara suatu saat akan habis. Karena itu, PLN mulai mengarah ke energi non-fosil, salah satunya energi panas bumi,” ujarnya, saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya, Rabu (15/04/2026).
Menurut dia, pemanfaatan energi panas bumi dinilai lebih berkelanjutan karena bersumber dari aktivitas dalam bumi yang relatif tidak habis. Meski demikian, PLN saat ini masih berada dalam tahap transisi sehingga penggunaan energi fosil masih mendominasi pembangkit listrik.
“Sebagai bagian dari transformasi tersebut, PLN juga menjalankan program energi ramah lingkungan yang dirancang untuk jangka waktu hingga lima tahun ke depan, khususnya di wilayah Lampung,” jelasnya.
Di sisi internal, PLN menerapkan kebijakan efisiensi melalui program “Jumat Hemat Energi”. Dalam program ini, pegawai tidak menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil setiap hari Jumat, melainkan beralih ke berjalan kaki, bersepeda, atau kendaraan listrik.
“Langkah ini bertujuan mengurangi konsumsi BBM sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya energi ramah lingkungan,” kata Sofyan.
PLN juga mengedukasi masyarakat bahwa penghematan listrik tidak berarti menghentikan penggunaan listrik, melainkan menggunakan energi secara bijak dan tepat guna.
“Penggunaan listrik diarahkan pada aktivitas yang lebih produktif agar konsumsi energi menjadi lebih efisien,” terangnya.
Terkait keandalan listrik, PLN menyebut pemadaman dapat terjadi akibat faktor eksternal seperti cuaca maupun faktor internal berupa pemeliharaan jaringan. Pemadaman terencana dilakukan dua hingga tiga kali dalam sebulan dengan durasi maksimal sekitar tiga jam. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan yang beroperasi selama 24 jam penuh.
“Kita juga mendukung kebijakan pemerintah seperti kerja dari rumah (WFH) dengan memastikan pasokan listrik tetap andal bagi masyarakat,” pungkasnya. (Rian)













