PIJAR MEDIA, TUBABA — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mencatat 30 kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sepanjang April hingga September 2026.
Kepala Damkarmat Tubaba Drs. Sujatmiko mengatakan, kejadian tersebut tersebar di sejumlah wilayah dengan luasan lahan yang terdampak bervariasi. Mayoritas lokasi yang terbakar berupa lahan tebu, karet, sawit, belukar, gambut hingga lahan di sekitar permukiman dan fasilitas umum.
“Seluruh kejadian yang kami catat, faktor penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi yang jelas dampak cuaca ekstrem El Nino Godzilla tahun ini memang rentan terjadi kebakaran,” kata Sujatmiko saat dikonfirmasi media, Kamis (01/10/2026).
Menurut Sujatmiko, sejak awal tahun, kejadian pertama tercatat pada 2 April 2026 di Tiyuh (Desa) Penumangan Suku V, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT), dengan luas lahan sekitar 4 hektare. Selanjutnya, kebakaran terjadi di Panaragan Jaya di samping Polres Tubaba pada 20 Juli dengan luas sekitar 8 hektare lahan tebu.
Karhutla kemudian terjadi di sejumlah titik lain, termasuk SP.6 Pemekaran, SMKN Pulung Kencana, Tol Terpeka KM 203, Pemekaran Asri, Tiyuh Gedung Ratu, Pagar Dewa, hingga kawasan TPA Sampah Penumangan.
Memasuki September, frekuensi kejadian tercatat cukup banyak. Kebakaran antara lain terjadi di sejumlah titik Panaragan, Daya Murni, Tirta Makmur, Mulya Asri, Gedung Ratu, Candra Mukti, Panaragan Jaya, Menggala Mas, Bujung Dewa, Pulung Kencana, Karta dan Gunung Katun.
Kebakaran dengan luasan cukup besar kembali tercatat pada 21 September 2026 di Tiyuh Kagungan Ratu RK.03 dan Tiyuh Kagungan Ratu Agung, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU).
Di Kagungan Ratu RK.03, lahan yang terdampak terdiri dari sekitar 3,75 hektare kebun karet dan 1,3 hektare sawit. Sementara di Kagungan Ratu Agung, tercatat sekitar 2,25 hektare karet, 1,5 hektare sawit serta 25 hektare lahan gambut.
Sujatmiko mengatakan, penanganan di lapangan secara umum dapat dilakukan tanpa kendala berarti. Namun, petugas beberapa kali menghadapi persoalan akses menuju lokasi serta keterbatasan sumber pengisian air untuk armada pemadam.
“Kendala yang ditemukan di beberapa lokasi terutama akses jalan dan sulitnya sumber pengisian armada,” ujarnya.
Damkarmat juga mencatat dampak karhutla terhadap lingkungan sekitar. Asap dari kebakaran berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan warga. Selain itu, api berpotensi meluas ke lahan atau perkebunan milik masyarakat di sekitar lokasi.
Damkarmat Tubaba terus melakukan penanganan terhadap setiap laporan kebakaran yang masuk. Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di lahan terbuka.
“Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan titik api,” pungkasnya.
(Rian)













