Tubaba Nihil Kasus Malaria, Status Eliminasi Tetap Terjaga

Foto :Kepala Dinas Kesehatan Tubaba Ns. Majril, S.Kep., MM

PIJAR MEDIA, TUBABA — Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mencatat nihil kasus malaria sepanjang semester I 2026. Capaian ini menjadi sinyal positif dalam mempertahankan status eliminasi malaria yang telah diraih daerah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Tubaba Ns. Majril, S.Kep., MM mengatakan, berdasarkan data hingga semester I 2026, tidak ditemukan kasus malaria di wilayah Tubaba.

“Semester I tahun 2026 tidak ditemukan kasus malaria atau tercatat nol kasus,” kata Majril kepada media, Rabu (26/08/2026).

Angka tersebut menurun dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, Dinkes Tubaba mencatat satu kasus malaria.

Meski demikian, Majril menegaskan kondisi nihil kasus bukan berarti kewaspadaan dapat dihentikan. Ancaman malaria masih mungkin muncul, terutama melalui mobilitas masyarakat dari dan menuju daerah yang masih memiliki penularan malaria.

Menurutnya, seseorang yang terinfeksi di wilayah endemis kemudian kembali ke Tubaba berpotensi membawa kasus tersebut. Kondisi ini dikenal sebagai kasus impor.

“Mobilitas penduduk menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Masyarakat yang bepergian atau bekerja di wilayah yang masih memiliki penularan malaria memiliki risiko terinfeksi,” ujarnya.

Karena itu, Dinkes tetap memperkuat sistem surveilans melalui puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan. Masyarakat dengan riwayat perjalanan dari daerah berisiko menjadi salah satu sasaran kewaspadaan.

Selain surveilans, pemeriksaan juga dilakukan terhadap masyarakat yang diduga mengalami malaria. Pemeriksaan dapat menggunakan mikroskopis maupun Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk membantu memastikan diagnosis.

Apabila ditemukan kasus positif, Dinkes akan melakukan penyelidikan epidemiologi, termasuk menelusuri riwayat perjalanan, tempat tinggal, aktivitas pasien, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi.

Pasien yang terkonfirmasi malaria akan mendapatkan pengobatan sesuai standar program malaria dan dipantau hingga pengobatan selesai.

BACA JUGA :  Korpri Lampung Gelar Ramadhan Berbagi, 1.101 ASN Terima Bantuan Sembako dan Beras

Dinkes juga terus mendorong masyarakat melakukan pencegahan, terutama menghindari gigitan nyamuk pada malam hari. Upayanya antara lain menggunakan pakaian tertutup, lotion antinyamuk, kelambu saat tidur, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Majril mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, atau gejala lain yang mengarah pada malaria, terlebih setelah melakukan perjalanan ke daerah yang masih memiliki risiko penularan.

“Jangan melakukan pengobatan sendiri. Segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala, terutama setelah bepergian dari daerah berisiko,” jelasnya.

Menurut Dinkes, tantangan penanggulangan malaria di Tubaba saat ini bukan tingginya jumlah kasus, melainkan bagaimana mempertahankan status eliminasi dan mencegah penularan kembali.

Dengan nihilnya kasus pada semester I 2026, Tubaba belum menetapkan wilayah tertentu sebagai daerah endemis malaria. Namun, kewaspadaan tetap dilakukan di seluruh wilayah, khususnya pada daerah dengan mobilitas penduduk tinggi dan lingkungan yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Anopheles.

Dinkes menilai keberhasilan mempertahankan eliminasi malaria membutuhkan kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat.

“Eliminasi harus dipertahankan dengan kewaspadaan, deteksi dini, pemeriksaan cepat, pengobatan yang tepat, dan peran aktif masyarakat,” pungkasnya.

(Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *