PIJAR MEDIA, TUBABA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, telah menyiapkan langkah mitigasi komprehensif untuk menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada Mei hingga Oktober 2026.
Fenomena yang kerap disebut “El Nino Godzilla” ini diprediksi memicu kekeringan dan penurunan produksi pertanian.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Tubaba, Sarwo Haddy Sumarsono, melalui Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris sekaligus Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Sayu Made Budiarni, menyampaikan bahwa dampak El Nino berpotensi signifikan terhadap ketersediaan air irigasi dan keberlanjutan produksi pangan daerah.
“Perubahan pola hujan dan peningkatan suhu udara berisiko menurunkan hasil panen bahkan menyebabkan gagal panen, sehingga diperlukan langkah mitigasi yang terukur dan terintegrasi,” ujar Sayu Made Budiarni saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (16/04/2026).
Pemerintah daerah memetakan wilayah rawan terdampak, terutama pada areal persawahan di daerah irigasi Way Rarem yang mencakup Kecamatan Tumijajar, Tulang Bawang Tengah, dan Tulang Bawang Udik.
Sekitar 3.000 hektare lahan sawah diperkirakan tidak dapat ditanami padi pada musim tanam (MT) II periode April–September 2026. Kondisi ini diperparah oleh rencana rehabilitasi jaringan irigasi primer di wilayah tersebut.
“Saat ini, capaian pertanian padi di Tubaba menunjukkan realisasi panen seluas 3.215,50 hektare dengan produksi mencapai 20.281,55 ton. Sementara luas tanam yang masih dalam fase pertumbuhan (standing crop) tercatat 6.033,75 hektare” terang Sayu.
Kecamatan Tumijajar menjadi kontributor terbesar dengan luas panen 2.252,50 hektare dan produksi 14.641,25 ton, diikuti Tulang Bawang Tengah dan Gunung Terang.
Adapun untuk komoditas jagung, realisasi tanam mencapai 276 hektare dengan produksi 626 ton dari 88 hektare lahan panen. Tulang Bawang Tengah menjadi wilayah dominan produksi jagung.
“Secara keseluruhan, luas lahan pangan di Tubaba mencapai sekitar 11.000 hektare, terdiri dari 6.900 hektare sawah irigasi dan 700 hektare sawah tadah hujan, serta lahan kering lainnya,” ungkapnya.
Mengantisipasi dampak El Nino, pemerintah daerah menetapkan sejumlah strategi utama, antara lain percepatan masa tanam, penggunaan benih tahan kekeringan, serta optimalisasi alat dan mesin pertanian.
Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan meliputi revisi target tanam padi April dari 2.427 hektare menjadi 416 hektare, percepatan panen musim tanam pertama, serta percepatan tanam jagung hingga 3.000 hektare di lahan non-irigasi.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan varietas unggul tahan kekeringan seperti Inpago dan Inpari, serta menyediakan dukungan sarana berupa 61 unit pompa air bantuan dari tahun-tahun sebelumnya.
“Optimalisasi sumber air dan pemanfaatan lahan non-irigasi menjadi fokus untuk menjaga produktivitas pertanian,” kata Sayu.
Ke depan, pemerintah daerah juga akan memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dinas teknis terkait.
Langkah lanjutan juga mencakup pembangunan irigasi perpompaan, konservasi sumber air, penyebaran informasi iklim kepada petani, serta peningkatan partisipasi dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Selain itu, petani didorong untuk memanfaatkan lahan tanpa irigasi untuk komoditas alternatif seperti jagung dan hortikultura, serta menerapkan teknik budidaya hemat air, termasuk penggunaan mulsa dan pengendalian hama secara hayati.
Pemerintah Kabupaten Tubaba menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut bertujuan melindungi aset produktif daerah, menjaga ketahanan pangan, serta meminimalisir kerugian petani akibat perubahan iklim ekstrim.
“Dengan strategi yang telah disusun, kami optimistis dampak El Nino dapat ditekan dan stabilitas produksi pangan tetap terjaga,” pungkasnya. (Rian).













