94 Kasus HIV Aktif Dipantau Dinkes Tubaba

Foto :Kepala Dinas Kesehatan Tubaba Ns. Majril, S.Kep., MM

PIJAR MEDIA, TUBABA — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mencatat sebanyak 94 kasus HIV aktif yang masih dalam pemantauan hingga Agustus 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Tubaba Ns. Majril, S.Kep., MM mengatakan, dari total kasus tersebut, sebanyak 15 kasus baru ditemukan sepanjang semester I 2026. Sementara sepanjang 2025 tercatat 20 kasus baru HIV. Adapun sisanya temuan dari tahun-tahun sebelumnya.

Dengan demikian, jumlah kasus baru yang ditemukan hingga semester I 2026 tercatat lima kasus lebih sedikit dibandingkan total temuan baru sepanjang 2025.

“Upaya penanggulangan HIV terus kami lakukan melalui skrining, penemuan kasus secara dini, pengobatan, pendampingan pasien, serta edukasi kepada masyarakat,” kata Majril kepada media, Rabu (26/08/2026).

Dari 94 kasus HIV aktif yang dipantau, mayoritas merupakan kelompok dewasa sebanyak 87 kasus. Kemudian terdapat lima kasus pada kelompok remaja dan dua kasus pada anak.

Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV aktif tersebut terdiri dari 56 laki-laki dan 38 perempuan.

Majril menjelaskan, masih ditemukannya kasus HIV dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya perilaku yang berisiko terhadap penularan, termasuk hubungan seksual tidak aman dan berganti-ganti pasangan.

Penularan juga dapat terjadi dari ibu dengan HIV kepada bayi selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain itu, rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan dini menjadi tantangan. Sebab, seseorang yang terinfeksi HIV dapat tidak menunjukkan gejala khas sehingga tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.

“Stigma dan diskriminasi juga menjadi kendala. Ini dapat membuat seseorang takut melakukan pemeriksaan atau mengakses layanan kesehatan,” ujarnya.

Dinkes memberikan perhatian terhadap kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti pekerja seks, pengguna narkotika melalui jarum suntik, lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL), serta waria atau transgender.

BACA JUGA :  ​Gelar Perdana: Senam Akbar Pacak-Pacak Bangkit Semarakkan Kemeriahan KONI EXPO Mesuji 2026

Perhatian juga diberikan kepada kelompok khusus seperti ibu hamil, pasien tuberkulosis (TBC), pasien infeksi menular seksual (IMS), dan warga binaan pemasyarakatan.

Menurut Majril, penjangkauan kelompok berisiko menjadi tantangan tersendiri karena sebagian bersifat tertutup, berpindah-pindah, maupun tidak memiliki identitas kependudukan yang jelas.

Dinkes terus memperkuat skrining HIV melalui puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan. Pasien yang telah teridentifikasi juga mendapatkan pemantauan dan pengobatan secara berkelanjutan.

Pengobatan antiretroviral (ARV) bagi pasien HIV diberikan melalui layanan kesehatan secara gratis sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Pendampingan dilakukan untuk memastikan pasien mengikuti pengobatan secara teratur sekaligus mendapatkan informasi mengenai kondisi kesehatan dan upaya mencegah penularan.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui pemeriksaan HIV terhadap ibu hamil untuk mencegah penularan dari ibu ke anak.

Dinkes turut mendorong masyarakat menerapkan perilaku yang dapat menekan risiko penularan, termasuk menghindari hubungan seksual berisiko, setia kepada satu pasangan, menggunakan kondom pada hubungan seksual berisiko, serta tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Majril juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV (ODHIV).

“HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari seperti bersalaman, berpelukan, maupun tinggal serumah. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut terhadap orangnya, tetapi memahami cara mencegah penularannya,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat yang pernah memiliki faktor risiko penularan agar tidak ragu melakukan tes HIV. Ibu hamil juga diminta melakukan pemeriksaan sedini mungkin agar apabila ditemukan infeksi dapat segera memperoleh penanganan.

Dinkes Tubaba menegaskan penanggulangan HIV membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

“Dengan deteksi dini dan pengobatan yang teratur, orang dengan HIV tetap memiliki kesempatan menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Pencegahan, pemeriksaan dini, pengobatan, serta penghapusan stigma menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV di Tubaba,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Sekda Tubaba Lantik 44 Pejabat, Ini Daftar Namanya

(Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *