PIJAR MEDIA, PESAWARAN — Pengembangan bioetanol mulai digenjot di Provinsi Lampung. Pemerintah bersama sejumlah mitra menyiapkan ekosistem energi terbarukan berbasis biomassa dengan target pengembangan menuju skala komersial berkapasitas 60 ribu kiloliter.
Langkah tersebut ditandai dengan launching Bioethanol Development Center Lampung di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin (14/09/2026).
Pengembangan pusat bioetanol ini melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), Toyota Group, Universitas Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, serta sejumlah mitra dan pemangku kepentingan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, mengatakan fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 dalam skala pilot project dengan kapasitas 60 kiloliter.
Fasilitas tersebut juga akan didukung lahan demplot budidaya seluas 10 hektare. Tahap awal ini akan digunakan untuk menguji sekaligus memvalidasi keekonomian produksi bioetanol.
Pengujian mencakup bioetanol generasi pertama berbasis singkong dan sorgum serta generasi kedua yang memanfaatkan limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu.
“Development Center ini kita bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya, berapa harga kompetitif cost-nya yang bisa kita dapat. Karena yang namanya energi transisi, tantangan paling besarnya itu berbicara mengenai harga, cost,” kata Todotua.
Setelah tahap pengembangan dan pengujian, pemerintah menargetkan proyek tersebut dapat didorong menuju skala komersial dengan kapasitas sekitar 60 ribu kiloliter.
Todotua mengatakan pengembangan bioetanol di Lampung merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi nasional.
Menurutnya, bioetanol memiliki peluang menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar bensin. Ia menyebut konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 36 juta kiloliter per tahun.
Pengembangan bioetanol juga dinilai dapat mendukung upaya mengurangi tekanan subsidi energi yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Pemilihan Lampung sebagai lokasi pengembangan sentra bioetanol disebut tidak terlepas dari potensi pertanian dan riset biomassa yang dimiliki daerah tersebut.
Todotua menceritakan pengalamannya saat melihat pengembangan teknologi biomassa di Fukushima, Jepang. Dalam kunjungan itu, ia mendapat informasi bahwa riset enzim dan bibit sorgum yang digunakan dalam pengembangan teknologi di Jepang memiliki keterkaitan dengan riset dari Lampung.
“Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung, kita bawa,” ujar Todotua mengutip pihak yang ditemuinya di Jepang.
Ia juga mencontohkan Brasil yang telah mengembangkan bioetanol dalam skala besar dengan memanfaatkan bahan baku seperti singkong, jagung dan sorgum.
Menurut Todotua, pengembangan bioetanol di Brasil juga terintegrasi dengan sektor peternakan dan menerapkan konsep ekonomi sirkular. Ampas hasil distilasi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah lainnya dapat diolah menjadi biometana dan pupuk organik.
Model serupa diharapkan dapat dikembangkan di Lampung dengan melibatkan petani dan koperasi sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku atau feedstock hub.
“Harapannya kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pengembangan bioetanol menjadi momentum bagi Lampung untuk mengembangkan potensi pertanian menjadi sumber energi sekaligus menciptakan nilai tambah.
Selama ini, Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Sekitar 27 persen struktur ekonomi Lampung ditopang sektor pertanian.
Sejumlah komoditas unggulan Lampung antara lain ubi kayu dengan produksi sekitar 7,5 juta ton, padi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling, jagung sekitar 1,7 juta ton, serta tebu sekitar 724 ribu ton gula kristal putih.
Menurut Mirza, potensi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan industri bioetanol berbasis berbagai bahan baku atau multi-feedstock.
“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri. Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Mirza.
Ia menegaskan pembangunan Bioethanol Development Center bukan hanya soal membangun fasilitas produksi, tetapi juga membangun ekosistem yang melibatkan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol hingga pemanfaatan produk turunannya.
Pengembangan sorgum sebagai salah satu bahan baku juga diharapkan berjalan beriringan dengan pembangunan pusat bioetanol tersebut.
“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Mirza menilai pengembangan bioetanol berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi petani, tenaga kerja, UMKM, pelaku usaha, peneliti hingga masyarakat di sekitar kawasan pengembangan.
Ia berharap terbentuk rantai nilai yang kuat mulai dari penyediaan benih, budidaya, mekanisasi, pengolahan biomassa, produksi bioetanol hingga pemanfaatan produk samping.
“Inilah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan sekadar mengolah bahan baku. Tetapi menciptakan nilai tambah yang kembali kepada masyarakat,” kata Mirza.
Pengembangan bioetanol tersebut juga diarahkan untuk mendukung kebijakan nasional terkait peningkatan pemanfaatan campuran bioetanol pada bahan bakar bensin, dari E5 menuju E10 hingga E20.
Dalam launching tersebut dilakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara Pertamina NRE dengan Pemerintah Provinsi Lampung.
Turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.
Sebagai tanda dimulainya pembangunan fasilitas riset dan produksi, Todotua bersama Gubernur Lampung, jajaran Komisaris PT Pertamina (Persero), dan pimpinan konsorsium otomotif Jepang melakukan prosesi simbolis penuangan semen perdana.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman perdana bibit sorgum unggul di lahan demplot percontohan seluas 10 hektare.
Mirza berharap seluruh proses pengembangan dilakukan secara profesional, transparan dan terukur, dengan tetap memperhatikan keselamatan kerja serta kelestarian lingkungan.
“Keberhasilan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga sejauh mana industri bioetanol mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan energi nasional,” pungkasnya.
(Rian)













