PIJAR MEDIA, TUBABA — Harga sejumlah komoditas unggulan di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, mengalami kenaikan pada September 2026.
Berdasarkan pemantauan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tubaba per Kamis (10/09/2026), komoditas yang tercatat naik yakni karet, tebu dan singkong. Sementara harga komoditas lainnya seperti sawit, gabah dan jagung masih relatif stabil.
Kepala Diskoperindag Tubaba, Achmad Nazaruddin, mengatakan pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga komoditas di tingkat pabrik maupun lapak sekaligus melihat kondisi produksi dan perdagangan di lapangan.
“Secara umum harga komoditas unggulan masih relatif stabil. Namun ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan dibandingkan periode bulan sebelumnya,” kata Nazaruddin kepada media.
Menurutnya, harga karet menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan sekitar Rp300 per kilogram. Harga pembelian karet mingguan kini berada di kisaran Rp18.500-Rp20.000 per kilogram, sedangkan karet harian berada pada kisaran Rp16.000-Rp17.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas tebu sekitar Rp100 per kilogram. Harga pembelian berada di kisaran Rp730-Rp900 per kilogram, tergantung kualitas hasil produksi dan tingkat rendemen.
Sementara harga singkong naik sekitar Rp50 per kilogram menjadi Rp2.150 per kilogram. Pembelian singkong tersebut dilakukan di tingkat pabrik/lapak PT BERTINDO/BTJ di Tiyuh (Desa) Karta, Kecamatan Tulang Bawang Udik (TBU).
“Adapun harga kelapa sawit masih berada di kisaran Rp2.800-Rp3.000 per kilogram dan relatif stabil. Kemudian harga gabah tercatat Rp7.850 per kilogram, sedangkan jagung berada pada kisaran Rp5.500-Rp6.000 per kilogram. Kedua komoditas tersebut juga masih dalam kondisi relatif stabil berdasarkan hasil pemantauan,” tuturnya.
Diskoperindag Tubaba mencatat aktivitas jual beli komoditas di tingkat pabrik dan lapak masih berjalan dengan baik. Hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai gangguan berarti dalam perdagangan komoditas unggulan di wilayah tersebut.
Meski perkembangan harga cukup positif bagi petani, kondisi kekeringan menjadi perhatian yang perlu diantisipasi.
“Keterbatasan ketersediaan air menyebabkan sebagian petani belum dapat melakukan penanaman kembali secara optimal. Jika berlangsung dalam waktu panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman, ketersediaan hasil panen hingga pasokan komoditas ke pabrik dan lapak,” jelasnya.
Kondisi pasokan tersebut pada akhirnya juga dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas pada periode berikutnya.
Diskoperindag menilai kenaikan harga karet, tebu dan singkong menjadi perkembangan positif bagi petani karena meningkatkan nilai jual hasil produksi. Namun, perubahan harga tetap perlu dipantau secara berkala karena dipengaruhi kualitas hasil, tingkat rendemen, pasokan dan permintaan pasar.
Pemerintah daerah juga akan terus memantau perkembangan harga dan produksi serta berkoordinasi dengan petani, pabrik dan pelaku perdagangan.
“Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kelancaran perdagangan, mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produksi, serta memastikan ketersediaan komoditas unggulan di Tubaba tetap terjaga,” pungkasnya.
(Rian)













