Tubaba— Kondisi peternakan di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, menunjukkan kontras antara komoditas ruminansia dan unggas sepanjang 2025. Produksi daging sapi dan kambing tercatat surplus dan mampu memenuhi kebutuhan lokal hingga pasokan luar daerah, sementara ayam pedaging dan ayam petelur masih mengalami defisit cukup signifikan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tubaba, Dedi, didampingi Kepala Bidang Perbibitan dan Produksi Ternak, Devita, mengatakan surplus ruminansia menjadi kekuatan utama sektor peternakan Tubaba saat ini.
“Untuk komoditas sapi dan kambing, produksi kita bukan hanya mencukupi kebutuhan daerah, tetapi juga dipasok ke luar Tubaba,” ujar Devita saat dikonfirmasi media di ruang kerjanya, Selasa (06/01/2026).
Berdasarkan data Disnakeswan, produksi atau stok daging sapi di Tubaba pada 2025 mencapai 624 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi hanya 315,77 ton. Dengan demikian, terdapat surplus sebesar 308,23 ton. Kondisi serupa juga terjadi pada kambing, dengan produksi 210 ton per tahun dan kebutuhan konsumsi 40,86 ton, sehingga surplus mencapai 169,14 ton.
Berbeda dengan ruminansia, sektor unggas masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Produksi ayam pedaging (broiler) tercatat sebesar 1.630,87 ton per tahun, sedangkan kebutuhan konsumsi mencapai 2.247,56 ton. Artinya, terjadi defisit sekitar 616,69 ton.
Defisit lebih besar terjadi pada ayam petelur. Produksi telur di Tubaba baru mencapai 1.293,12 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi menyentuh angka 2.325,87 ton. Kekurangan pasokan mencapai 1.032,75 ton per tahun.
“Kekurangan ayam daging dan telur selama ini dipenuhi dari luar daerah, seperti Lampung Tengah, Lampung Timur, Kota Metro, Lampung Utara, dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Lampung,” jelas Devita.
Menurutnya, rendahnya produksi unggas dipengaruhi sejumlah kendala. Di antaranya, minat masyarakat beternak unggas masih minim, hanya sekitar 10–15 persen. Selain itu, usaha unggas dinilai berisiko tinggi akibat penyakit, kematian ternak, fluktuasi harga, serta kondisi iklim Tubaba yang relatif panas sehingga unggas rentan stres.
“Potensi wilayah Tubaba memang lebih mendukung ternak ruminansia. Mayoritas peternak juga petani, sehingga pengelolaan pakan sapi dan kambing lebih mudah dan terintegrasi dengan sektor pertanian,” terangnya.
Untuk meningkatkan produksi ke depan, Disnakeswan Tubaba menyiapkan sejumlah program strategis. Pada sektor unggas, pemerintah daerah akan memperkuat edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, serta memfasilitasi akses permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Super Mikro bekerja sama dengan Bank Lampung.
Sementara pada sektor ruminansia, penguatan dilakukan melalui pelayanan ternak terpadu di 60 Tiyuh (Desa), meliputi edukasi, sosialisasi, dan bimbingan teknis pengelolaan pakan, kesehatan hewan, serta manajemen usaha ternak. Selain itu, Disnakeswan juga menyiapkan program Inseminasi Buatan (IB) kambing dengan rencana pengadaan 12.500 straw jenis Boer dan Peranakan Etawa (PE) pada triwulan pertama 2026 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Untuk 2026 ini, program IB difokuskan pada kambing. Tahun sebelumnya kami sudah menyalurkan 38.710 dosis straw, terdiri dari sapi dan kambing,” kata Devita.
Untuk target 2026, Disnakeswan menargetkan penambahan produksi ruminansia sebesar 392,67 ton, dengan peningkatan produksi daging sapi sebesar 2 persen dan daging kambing 6 persen. Sementara untuk unggas, produksi ayam pedaging ditargetkan mencapai 1.715,3 ton, dan ayam petelur ditargetkan naik sekitar 1,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Secara umum, Tubaba sangat potensi menjadi lumbung ternak terutama ternak ruminansia di Lampung. Pemerintah daerah pun menjadikan pengembangan sapi dan kambing sebagai program prioritas, sejalan dengan potensi wilayah dan arah kebijakan kepala daerah untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis peternakan. Oleh karenanya, kita optimis dan akan terus meningkatkan sektor peternakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Rian)










