Dugaan Santriwati Hilang di Ponpes Darurrohman Tubaba Picu Pertanyaan Publik, Begini Kata Kemenag

Foto : Ilustrasi

PIJAR MEDIA, TUBABA– Dugaan hilangnya seorang santriwati berinisial DCP dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darurrohman Mulya Kencana, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung, memicu sorotan publik terhadap sistem pengawasan di lingkungan pesantren.

Di tengah simpang siur informasi, Kemenag Tubaba juga belum menerima informasi bahkan laporan resmi, namun memastikan akan segera menelusuri kasus tersebut.

Ichwani, Staf Seksi Pendidikan Kemenag Tubaba mewakili Kepala Kantor Kemenag, H. Yulizar Andri, ST., M.Ag, menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui informasi tersebut dari pemberitaan media.

“Sejauh ini kami belum mendapatkan informasi itu baik dari ponpes maupun wali murid. Nanti informasi yang kami terima ini akan kami tindak lanjuti ke pondok yang bersangkutan untuk meminta kejelasan,” ujarnya, saat dikonfirmasi media pada Kamis (23/04/2026).

Ia menegaskan, pihaknya akan menggali penyebab santriwati tersebut bisa meninggalkan lingkungan pondok. Namun, ia juga menyebut bahwa penyelesaian utama tetap berada di internal pesantren.

“Kita akan tanyakan apa penyebab santriwati tersebut bisa keluar. Karena ini menyangkut santri dan pondok, penyelesaiannya pun harus di sana melalui mekanisme yang ada,” katanya.

Ichwani juga menambahkan bahwa Kemenag akan memberikan pembinaan apabila ditemukan adanya kelalaian, meski hingga kini pihaknya belum mengetahui secara pasti duduk perkara yang terjadi.

“Kalau ada kesalahan tentu akan kita berikan pembinaan. Kita juga belum tahu apa sebenarnya masalah di ponpes itu,” imbuhnya.

Di sisi lain, pernyataan berbeda justru datang dari pihak pengelola pondok pesantren Darurrohman. Hendri Bahrul, yang diduga sebagai penanggung jawab pondok, awalnya mengaku tidak mengetahui adanya kejadian tersebut saat dikonfirmasi media.

“Saya belum tahu, nanti saya cek dulu di pondok, nanti saya infokan kembali,” ujarnya singkat melalui sambungan telepon, Selasa (21/4/2026).

BACA JUGA :  Momentum Ramadhan, Giat Solid PSSI Mesuji Matangkan Persiapan Lisensi Pelatih hingga Target Tuan Rumah Piala Soeratin 2026

Namun, hanya berselang beberapa jam setelah pernyataan itu, Bahrul kembali menghubungi media dan menyampaikan bahwa DCP disebut telah berada di rumah orang tuanya.

“Alhamdulillah anaknya sudah di rumah orang tuanya,” katanya singkat sebelum menutup komunikasi tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Perubahan keterangan dalam waktu singkat tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait transparansi dan sistem pengawasan di lingkungan pondok pesantren.

Sebelumnya, kasus tersebut mencuat setelah seorang siswi kelas XI Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana dilaporkan tidak berada di asrama selama sekitar satu pekan lebih.

Informasi yang dihimpun media pada Senin (20/04/2026) menyebutkan, DCP diketahui sudah tidak berada di lingkungan pondok sejak beberapa hari sebelumnya.

Menurut keterangan keluarga, RY, ibu kandung DCP, menerima informasi awal dari wali kelas anaknya, Anwar Sahid, pada Sabtu (11/4/2026) yang menyebut bahwa DCP tidak berada di pondok. Merasa khawatir, pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut pada Jumat (17/4/2026).

Peristiwa ini sempat memicu keresahan keluarga hingga berencana melaporkan ke pihak kepolisian, mengingat tidak adanya kejelasan mengenai keberadaan DCP selama beberapa hari.

Sebelumnya Upaya konfirmasi media ke lokasi pondok juga tidak membuahkan hasil. Saat didatangi, pengurus pondok tidak berada di tempat.

“Bapak lagi jalan ke Dayamurni, Mas. Ada urusan, mungkin habis Ashar dia pulang,” ujar seorang perempuan yang mengaku sebagai istri petugas keamanan pondok, Senin (20/4/2026).

Di tengah polemik tersebut, sejumlah sumber dari kalangan pesantren menyebut bahwa standar pengawasan santri seharusnya dilakukan secara ketat dan menyeluruh.

Pengurus diwajibkan mengawasi aktivitas santri selama 24 jam, serta memastikan tidak ada santri yang keluar tanpa izin resmi.

Kasus ini kini menjadi sorotan karena tidak hanya menyangkut hilangnya seorang santri, tetapi juga membuka dugaan adanya lemahnya pengawasan dan manajemen Pondok Pesantren.

BACA JUGA :  Semaikan Empati di Bulan Suci Penuh Berkah, SMPN 7 Mesuji Santuni Siswa Yatim dan Lansia

Hingga berita ini kembali diterbitkan, belum ada penjelasan rinci dari pihak Pondok Pesantren Darurrohman Mulya Kencana terkait kronologi lengkap kejadian maupun langkah evaluasi yang dilakukan pasca peristiwa tersebut. (Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *